Dunia Kita Berbeda

    Hari itu, hari dimana seorang bayi perempuan dan laki laki lahir ke dunia. Mereka di beri nama Adira Putri Mahesa dan Haikal Putra Danayaksa. Namun walaupun mereka berdua lahir di hari yang sama, tetapi nasib mereka berdua sangat lah jauh berbeda. 

***
    Suara gaduh selalu saja terdengar di kediaman Haikal. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya yang tak pernah henti ber-adu argumen sepanjang hari. Walaupun ia tinggal dengan beribu ribu harta benda, tapi sayang sekali hal itu tidak menjamin kebahagiaan diantara keluarganya.

    Disisi lain, Adira hidup di keluarga yang ber-ekonomi 'kurang mampu. Akan tetapi, walaupun ia hidup dengan keadaan seperti itu, Adira tetap merasakan kehangatan dan kebahagian yang sederhana diantara keluarganya.

    Kini, mereka berdua menginjak SMA kelas 10 dan semesta akhirnya mempertemukan mereka di disini.

***
    Hari berganti hari, mereka mulai mengenal satu dengan yang lain. Bahkan sekarang mereka cukup akrab untuk saling berbagi keluh kesah. Terutama kisah tentang keluarga mereka masing masing.

    Tanpa Adira sadari, Haikal jatuh cinta kepadanya. Tutur katanya yang lembut serta parasnya yang menawan membuat Haikal enggan mengalihkan pandangan dari dirinya. Akan tetapi perbedaan begitu mencolok di antara mereka yang membuat kisah mereka mustahil untuk di restui oleh Tuhan dan semesta.

    Hari hari mereka lalui bersama hingga akhirnya mereka berdua lulus SMA. Haikal masih dengan rasa yang sama kepada Adira berfikir untuk menyatakan cintanya, namun ia ragu. Tak di sangka ternyata Adira mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di luar negeri, dengan gembira ia ceritakan kabar itu kepada Haikal dan berencana setelah ini ia ingin segera berangkat. Mendengar kabar itu, Haikal pun turut bahagia, namun di sisi lain ia juga bersedih karena Adira pasti akan sangat jarang mengabarinya.

    Beberapa hari kemudia Adira menyiapkan keberangkatannya untuk pergi berkuliah di luar negeri dan akan berangkat esok, tak lupa ia mengatakan hal itu kepada Haikal dan ingin berjalan jalan mengelilingi kota sebelum pergi. Mendengar hal itu Haikal pun meng iyakan keinginan Adira, karena jarang sekali ia meminta untuk berjalan jalan bersama Haikal. 
    Hari esok telah tiba, Haikal menawarkan diri untuk mengantar Adira kebandara agar Adira bisa menghemat uangnya untuk angkutan umum. 
   Sesampainya di bandara, Adira mengucapkan terimakasih kepada Haikal sembari memeluknya "Haikal, makasih ya selama masa SMA ini udah mau temenan sama aku. Berkat semua support dari kamu, aku bisa mewujudkan keinginanku. makasih banyak.. Tunggu aku kembali kesini ya?"
Haikal yang mendengar kalimat itu tanpa di sadari setetes air mata lolos dari matanya. Raut wajahnya tak bisa berbohong, Haikal sangat amat terharu. "Pasti. aku pasti akan selalu nunggu kamu disini, Adira.." 
   Setelah perbincangan penuh haru itu, Adira pun pergi dan melambaikan tangannya kepada Haikal, dan Haikal pun membalas lambaian tangan dari Adira. Namun ntah mengapa setelah lambaian tangan itu, ia merasakan firasat buruk.

***

    Benar saja firasat buruk yang Haikal rasakan kemarin, pagi ini ia mendengar kabar bahwa pesawat milik Adira hilang kendali dan jatuh. Dengan perasaan yang sangat shock Haikal dengan cepat ia menuju motor miliknya dan bergegas untuk pergi ke tempat evakuasi para korban pesawat itu. 
    Sesampainya disana, ia melihat kedua orang tua Adira menangis tersedu sedu sembari meratapi sesosok tubuh perempuan yang berbalut dengan kain. Dengan langkah kaki yang berat ia pun menghampiri kedua orang tua Adira. "Om.. tante.." ibunda Adira yang menyadari kehadiran Haikal disana pun segera memeluk Haikal "Nak.. Adira udah ngga ada nak.." ucapnya dengan tangis yang kian mengencang. Mendengar hal itu Haikal yang awalnya tidak percaya akan berita di tv pun merasa dadanya sesak dan merasakan duka yang amat mendalam sama seperti yang kedua orangtua Adira rasakan. 

     Hari ini, hari pemakaman Adira. Langit tampak mendung dan mulai meneteskan air seakan tau apa yang Haikal rasakan. "Adira.. secepat itu kamu pergi? Harusnya kemarin aku melarangmu untuk pergi.." ucapnya dengan rasa sesal dan nada bicara yang sendu "Maafkan aku Adira.. maafkan aku.." Hujan semakin deras, orang orang sudah beranjak pergi dari pemakaman, tetapi Haikal masih saja berlutut di sebelah makam Adira sembari menangis. "Adira, terimakasih sudah membuat hariku jauh lebih berwarna kemarin, terimakasih sudah membuat aku merasa memiliki teman sekaligus keluarga-" 
    "Aku mencintaimu, Adira Putri Mahesa. Maaf, aku menyatakan perasaanku setelah dunia kita berbeda.. tidurlah dengan damai disana, aku akan selalu singgah kemari. Tolong datang ke mimpiku ya? Aku merindukan tawamu." 
    Tak terasa hari mulai gelap, Haikal pun beranjak dari makam Adira dan mulai melangkah pergi dari sana.

Selesai.

Komentar